RESUME BUNG TOMO

RESUME

Bung Tomo Suamiku

Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu

e1f966056e7401a36b7766fd048afd27

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!”

_Bung Tomo_

 

SMA Negeri 2 Ngawi

  1. Annisa Dien Cahyani
  2. Chosy Yuda Sakti
  3. Yuhanida Ratnasari

Sutomo atau biasa kita kenal Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya dalam membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia dalam melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, dan berakhir dengan peristiwa 10 November 1945 yang sampai saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920 dengan  dan meninggal ketika melaksanakan ibadah haji di padang Arafah pada tanggal 7 Oktober 1981. Pendidikan dasarnya di HIS Surabya selama 7 tahun.

Seperti guntur begitulah suara khas Bung Tomo yang meledak-meledak menggema di radio. Gema suara Bung Tomo begitu menggelegar. Semua orang yang mendengarnya akan terpukau dan menimbulkan keinginan untuk berontak. Sejak seruan MERDEKA bergema, para pemuda dan juga pemudi mengadakan latihan menggunakan pistol, karaben, granat, dan juga metraliur. Selain itu para pemudi sudah pernah dilatih ketrampilan Palang Merah oleh Dr. Sumarno di rumah sakit Sukun Malang.

11 November 1945, para pemuda-pemudi berangkat ke Surabaya, ke garis depan. Tiga pemudi dan dua pemuda naik mobil dan yang lainnya naik truk berderet ke belakang. Ada yang memakai ikat pita merah putih di dahi, kelewang, keris pusaka, dan hanya sedikit yang membawa senjata modern. Sampai serak terus menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sampai pegal tangan mengacungkan kepalan dan berteriak, “Merdeka… Merdeka… Merdeka…” . Jarak Malang – Surabaya yang hanya 90 km ditempuh berjam-jam. Tengah malam mereka baru sampai di Surabaya dan langsung menuju markas.

Di sinilah pertama kali Sulistina bertemu dengan Bung Tomo, yang sebelumnya hanya mendengar suara Bung Tomo lewat radio. Karena markas di Jalan Tembok Dukuh sudah tidak aman, maka markas di pindah ke Jalan Mawar. Di tempat tersebut terdapat zender radio BPRI, tempat Bung Tomo menggelegarkan suaranya, membangkitkan semangat juang merebut kemerdekaan.

Pertempuran semakin mengehebat, semakin banyak pejuang yang menjadi korban. Markas di jalan Mawar sudah tidak aman dan berpindah di Jalan Biliton nomor 7. Di tempat ini lima pemuda mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Para pemuda yang bersemangat juang tinggi menganggap bahwa pemerintah republik yang baru berdiri sejak proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, kurang cepat bergerak melawan sekutu yang diboncengi Belanda. Badan ini merupakan badan ekstrim yang bersama-sama rakyat jelata akan menimbulkan pemberontakan. Pasukan Inggris dan Belanda dilawan, tidak peduli senjata hanyalah bambu runcing.

Memang benar apa yang dikatakan orang-orang Jawa, “Witing Tresno Jalaran Saka Kulina.” Seringnya intensitas pertemuan mereka menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Hingga berbagai cara dilakukan Bung Tomo untuk mendapatkan hati Sulis, wanita yang amat dicintainya. Seperti anak muda pada umumnya keduanya pun memutusakan untuk menjalin hubungan.

Pacaran pada zaman revolusi berbeda dengan pacaran di masa sekarang ini. Bertemu dengan orang yang dicintai di antara desing peluru atau pada waktu di garis belakang. Di sela-sela begitu banyak orang yang ingin bertemu dengan Bung Tomo. Waktu yang teramat singkat, tetapi terasa begitu indah. Hanya saling pandang mata, bertanya apa kabar? atau dikesempatan yang lebih lama Bung Tomo bercerita tentang masa kanak-kanak dan remaja. Dengan memperkenalkan masa lalunya, Bung Tomo ingin memperkenalkan diri secara utuh. Kenakalan, cita-cita, dan kehidupannya dalam kepanduan.

“Datanglah. Waktuku amat sempit. Ada yang ingin kuceritakan padam.”

Seperti itulah  salah satu surat dari Bung Tomo untuk Sulistina. Bung Tomo sering membuat katabelletjes, surat-surat kecil untuk Sulistina. Disetiap kedaan Bung Tomo menyempatkan dirinya untuk menulis surat pendek. Walapun pendek tapi tidak menghilangkan rasa kemesraan. Akan tetapi, surat-surat pendek yang telah dikumpulkan tersebut musnah ketika Madiun affair.

Banyak masalah yang terjadi antara Bung Tomo dengan Sulistina. Datangnya kiriman dari seorang gadis yaitu bros, gelang dan kalung dari perak bakar. Dan terdapat surat kecil yang berisi, “Mengembalikan perhiasan perak bakar dari Bung Tomo”. Pernyataan bahwa gadis itu tidak mau menerimanya. Setelah bertemu dengan Bung Tomo dan menanyakannya, ternyata kiriman tersebut adalah perbuatan Asmanu.

Bagaimanapun ada lagi masalah yang mengguncang hubungan mereka. Sulistina dikatakan sudah tidak perawan lagi. Seorang gadis yang garis lehernya putus itu tandanya sudah tidak perawan. Seorang perawan tua diadili bersama saksi ibu dari Bung Tomo. Perawan tua tersebut mengakui apa yang telah dia katakan dan meminta maaf. Sangat sulit untuk memaafkan kelakuan wanita tersebut, tetapi dia menangis dan Sulis memaafkannya.

Gangguan-gangguan kecil terus berdatangan. Meskipun tahu bahwa Bung Tomo punya kekasih , tetapi semakin banyak gadis-gadis yang berusaha menggoyahkan hati dan menarik perhatian Bung Tomo. Akhirnya Bung Tomo memutuskan agar kami bertunangan. Bapak dan Ibu Ciptowidjoyo secara resmi melamarku kepada ayah dan ibu Sulistina dengan membawa peningset seperangkat pakaian pada tanggal 5 Mei 1946. Upacara yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Walaupun mereka sudah resmi bertunangan, tetapi percintaan tersebut bukan percintaan yang bebas lepas. Bung Tomo sebagai pimpinan BPRI dan pengobar semangat perjuangan, sering diincar musuh. Hanya pada waktu pulang dari front atau peninjauan daerah lain, mereka dapat bertemu.

Bung Tomo mempunyai cita-cita dan menceritakan kepada Sulistina. Dia ingin punya rumah sederhana seperti pondok di atas gunung dan jauh dari keramaian, untuk ditempati bersama Sulistina. Hawanya bersih, sejuk, dan pemandangan yang indah. Sulistina menanam bunga dan dia menanam sayur. Bung Tomo juga ingin mengumpulkan muda-mudi untuk dididik supaya menjadi patiot bangsa.

Sejak awal tahun 1946 Jogja menjadi Ibukota Republik Indonesia. Dikarenakan Jakarta sudah tidak aman lagi dan diduduki oleh Belanda. Sejak 12 Maret 1946 Sutan Syahrir menjadi perdana menteri sekaligus merangkap sebagai menteri luar negeri.Kota-kota jatuh dan pasukan mundur untuk menyerang. Bung Tomo pindah ke Tretes agar dekat dengan tempat latihan pasukan. Suara Bung Tomo semakin menggelegar memanggil pemuda-pemuda Indonesia untuk berjuang membela tanah air dan mengusir musuh dari bumi Indonesia.

Keadaan semakin genting, pertempuran berkobar-kobar dimana-mana. Bung Tomo tetap menggelegarkan suaranya lewat Radio Pemberontakan dari BPRI, yang terpaksa harus berpindah-pindah karena kejaran Belanda. Akhirnya para pejuang memutuskan untuk sementara waktu mengungsikan Bung Tomo ke Australia, karena Australia sudah terbukti membantu perjuangan Indonesia. Di sana Bung Tomo dapat mengobarkan semangat rakyat Indonesia lewat radio dan diusahakan agar suaranya sampai di Indonesia.

Namun , ada syarat yang diajukan para pejuang. Bung Tomo harus menikah terlebih dahulu, karena di sana gadis-gadisnya sangat agresif. Itulah yang dipakai senjata oleh lawan-lawan politik termasuk PKI, yang selalu mendengungkan bahwa Bung Tomo ingkar janji. Dalam pidatonya Bung Tomo mengatakan tidak akan menikah sebelum meraih kemerdekaan.

Pernikahan diputuskan tanggal 19 Juni 1947. Tetapi ada persyaratan, mereka harus berjanji untuk tidak melakukan hubungan suami istri selama 40 hari. Jika dilanggar akan ada medan perang yang diboboli musuh. Upacara akad nikah dilaksanakan di rumah Bung Tomo, Jl. Lowokwaru IV/12, Malang.

Menurut rencana mereka berangkat ke Australia dari lapangan terbang Bugis, Malang. Sebelum berangkat, Bung Tomo bersikukuh ke Jogja untuk pamit dengan Panglima Sudirman. Tetapi di tengah perjalanan ke Jogja terdapat kabar bahwa lapangan Bugis di bom Belanda dan kota Malang telah Jatuh. Mereka kemudian menetap di Jogja, menempati sebuah kamar di markas BPRI di jalan Balapan.

Akhirnya masa puasa 40 hari telah berlalu. Kamar berukuran 5×5 meter di markas, mereka menjalani malam pengantin. Bung Tomo mematikan lampu dan menggantikannya dengan nyala lilin. Pada hari sebelumnya Bung Tomo memberikan buku Kamasutra, buku yang menjabarkan bagaimana istri melayani suami.

Bung Tomo sebagai Jenderal Mayor yang dilantik oleh Bung Karno dan dudu dalam Combined staff di Markas Besar Angkatan Darat yang membawahi tiga angkatan. Sejak 3 Juni 1947, badan-badan kelaskaran dimasukkan dalam wadah Tentara Nasional Indonesia. Tanggal 28 Juni, Jenderal Sudirman dilantik menjadi Panglima Besar TNI dan Amir Syarfudin menjadi Menteri Pertahanan.

Ketika di Tawangmangu Bung Tomo mendapat telegram dari Amir Syarifudin. Menyatakan bahwa Bung Tomo harus memilih tetap menjadi Jenderal nmun tidak boleh berpidato atau berhenti menjadi Jenderal tetapi bisa berpidato. Dia memilih jadi rakyat jelata tetapi tidak dilarang untuk berpidato, keputusan tersebut didukung oleh kawan-kawannya. Walau tidak menjadi Jenderal lagi Bung Tomo di anugerahi istrinya mengandung. Setelah lahir anak tersebut di beri nama Tien Sulistami.

Desember 1948 ada kongres BPRI di Magelang dan Bung Tomo mengajak istri dan bayi yang berumur 6 bulan. Ketika kembali ke Jogja mereka dicegat oleh rakyat di Muntilan. Jogja sudah diduduki Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta ditawan. Tetapi Panglima Sudirman keluar kota meneruskan perjuangan. (19 Des 1948) .. Istri dan anak dititipkan pada keluarga Romo Mangunsoedarso, Bung Tomo meneruskan perjuangan dan akan bergabung dengan pasukan Jenderal Sudirman. Tetapi, hingga perang selesai Bung Tomo tidak pernah bertemu dengan Jenderal Sudirman.

Sejak agresi Militer Belanda atau yang dikenal sebagai clash kedua diawali tanggal 19 Desember 1948 sampai beberapa bulan kemudian, tidak akan memadamkan perlawanan Bung Tomo pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Berbagai cara dilakukan oleh Belanda untuk memghancurkan Indonesia, misalnya saja yang tejadi pada peristiwa di seberang barat kota Sentolo Jogja. Salamrejo nama daerah tersebut. Pada saat itu, Belanda memberikan ultimatum yang berisi tentang rakyat Salamrejo diharuskan untuk menutup lunbang-lubang jebakan yang disiapkan untuk Belanda. Jika tidak, maka Belanda akan membakar habis seluruh Salamrejo. Namun, sayangnya tanggapan rakyat Salamrejo tidak sesuai dengan apa yang di Inginkan oleh Belanda. Rakyat melawan, mereka menolak untuk menutup lubang, bahkan mereka berencana untuk memperdalam lubang tersebut. Bukan tanpa konsekuensi, mereka paham betul apa konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Namun untuk Kemerdekaan… Untuk Kedaulatan…Mereka tetap melawan! Dengan arahan dari Bung Tomo mereka mengatur siasat untuk memperkecil korban yang mungkin akan timbul.

Begitu pula, pada kejadian yang dimulai pada tanggal 21 Februari 1949 di desa Dodol, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Bung Tomo mengkoordinir berita dan suara-suara baik dari kalangan Militer maupun Pemerintah Pusat, sehingga memudahkan siasat bersama. Namun hal yang tak diduga pun terjadi. Pasukan yang disiapkan untuk bertempur melawan Belanda balik menyerang antar pasukan. Hal ini mengakibatkan perpecahan internal yang tak dapat dihindari. Di garis depan bertempur melawan Belanda tetapi di garis belakang saling bertempur satu sama lain. Seperti pepatah mengatakan menggunting dalam lipatan.

Bung Tomo segera bertindak, saat ia diajak untuk segera pindah dari tempat tersebut. Ia pun menolak. Baginya, ia harus bergerak untuk mendamaikan pihak yang bertempur. Karena menurut Bung Tomo, persatuan adalah hal penting yang sangat diperlukan untuk menghadapi Belanda. Namun, akibat dari hasratnya yang sangat besar untuk mendamaikan perselisihan antar teman seperjuangan, terkepunglah Bung Tomo oleh Belanda di desa tersebut dari berbagai arah. Walapun suasana penuh ketegangan, Bung Tomo tak lupa untuk selalu memuji dan bersyukur kepada Tuhannya. Ia tetap melakukan puasa sunah Senin-Kamis, salat hajat, tak lupa pula salat tahajud.

Untuk melarikan diri dari kepungan Belanda, Bung Tomo dan rombongannya masuk kedalam lebatnya hutan Wilis. Mereka terus menyebrangi sungai yang amat deras arusnya dan mendaki bukit. Pesawat udara Belanda meraung-raung dan terbang di atas kepala mereka. Tidak ada tempat untung berlindung, yang bisa mereka lakukan hanya berdoa dan memohon perlindungan dari pada-Nya. Hingga pada akhirnya Tuhan menjawab doa mereka. Kabut tebal dan segumpal awan tiba-tiba muncul sehingga tidak terlihatlah mereka oleh pesawat Belanda dari udara.

Sedangkan tentara Belanda mengira rombongan Bung Tomo bersembunyi di Desa Ganter. Akibat dari peristiwa salah duga oleh Belanda tersebut setiap rumah yang dulunya dipergunakan pasukan Republik, diserbu dengan semena-mena. Jika pintu ditutup mereka gedor, entah itu kakek-kakek entah itu anak muda yang tidak tau apa-apa mereka tembak mati. Kalau ada penghuni rumah yang mirip tentara dan pria berkumis maka ditembak seketika. Semuanya roboh. Tanah bersimbah darah merah. Termasuk Menteri Suspeno, yang gugur pada tanggal 24 Februari 1949.

Pada Tanggal 1 Maret 1949, mulai jam 06.00 pagi dibawah pimpinan Soeharto, pasukan TNI mengadakan serangan mendadak di Jogja. Serangan umum ini berhasil mendesak Belanda, mengumumkan, dan menunjukkan kepada dunia luar bahwa tentara Indonesia masih sanggup, mampu, dan berhasil menggoyang kedudukan Belanda. Serangan ini kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret. Gema Serangan Umum ini merambati ke seluruh daerah di Indonesia karena disiarkan secara luas. Bung Tomo pada saat itu berada di Tulungagung. Kakinya bengkak. Tak dapat digerakkan. Hal ini sungguh menyiksa Bung Tomo yang biasanya lincah ke sana ke mari, mengkoordinir berita. Hari itu, ia hanya bisa mendengarkan seruan Serangan Umum tersebut dari radio. Dukungan-dukungan dari banyak pihak pun didengarnya hingga menambah semangat yang ada.

Serangan-serangan dari Bung Tomo dan pasukan republik semakin menghebat dan tidak henti-henti. Hal ini mengganggu konsentrasi Belanda. Banyak orang-orang Belanda meragukan agresi, dan mulai menyadari bahwa hakikat bangsa di dunia ini terutama bangsa Indonesia adalah keinginan untuk merdeka dan berdaulat. Pada Tanggal 7 Mei 1949 ditandatanganinya persetujuan yang dikenal sebagai Statement Roem-Royen, yang membuka jalan perdamaian Indonesia dengan Belanda. Hal itu menandai perang telah usai. Jogja kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kehidupan normal pun kembali. Bung Tomo dan semua orang yang membantu merebut kemerdekaan kembali ke kehidupan semula. Namun apa daya, lapangan kerja tidak tersedia. Berbondong-bondong orang mencari pekerjaan, termasuk Bung Tomo yang setiap hari keluar mencari pekerjaan. Dari pagi sampai siang ia bersender di tembok kantor Sri Sultan Hamengkubuwono. Namun lagi-lagi kabar buruk menghampirinya. Tak satupun lowongan yang tersedia. Ia tetap menganggur.

Beginilah nasib para pejuang. Sedih sekali rasanya. Mereka yang antek-antek Belanda tetap memperoleh kedudukan. Sebaliknya, banyak mantan pejuang yang tak memperoleh kesempatan untuk bekerja. Lalu apa penghargaan Pemerintah Republik kepada mereka yang telah menyambung nyawa untuk merdeka dan untuk mempertahankan kemerdekaan ?

Waktu terus berputar. Sampai pada akhirnya Bung Tomo menyerah untuk menjadi seorang pegawai. Baginya, yang menentukan Indonesia ini merdeka atau tidak bukan hanya melalui diplomasi, tetapi banyak juga hal lain termasuk juga angkat senjata yang ia dan teman-temannya lakukan dulu. Bagaimana pun ada atau tidaknya pekerjaan, hidupnya harus terus berjalan. Beberapa bulan kemudian, lahir lah seorang bayi laki-laki berambut gondrong dan kulitnya berwarna hitam penuh daki dari pasangan tersebut. Bernama Jago Sulistomo. (Saat berusia 4 tahun namanya berubah menjadi Bambang Sulistomo). Setelah beberapa hari daki ditubuhnya perlahan-lahan menghilang dan dia berubah menjadi bayi berkulit kuning.

Di berbagai pertemuan selanjutnya, Bung Tomo bertemu dengan seorang tamu Belanda. Lama ia menjabat tangan Bung Tomo. Nampak heran ia menyaksikan orang yang bernama Bung Tomo. Inikah orang yang dicari-cari Belanda ketika perang? Inikah orang yang selalu ditakuti oleh serdadu-serdadu Belanda? Mungkin, bagi orang yang belum pernah bertemu Bung Tomo secara langsung akan mengira Bung Tomo adalah orang yang tinggi besar, sangar, dan menakutkan. Akan tetapi apa daya kenyataan berkata lain, Bung Tomo adalah seorang pria yang tidak terlalu tinggi dan murah senyum.

Pada Tahun1949, lahirlah anak ketiga dari Bung Tomo. Sri Sulistami namanya. Pada saat itu kehidupan Bung Tomo sekeluarga masih serba kekurangan. Sulistina, istrinya itu mengandalkan uang pinjamana dari ibunya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sedangkan Bung Tomo, tetap saja ia terus sibuk bergerak dan berjuang untuk rakyatnya seperti yang ia lakukan pada zaman perjuangan dulu. Ia adalah milik seluruh rakyat. Rakyatlah yang selalu menguasai pikirannya sehingga ia terlalu menganggap enteng kehidupan ekonomi keluarnganya. Setelah beberapa kali istri kesayangannya itu mengajukan protes pada Bung Tomo, akhirnya Bung Tomo pun sadar. Ia dan istri mendirikan sebuah percetakan yang dapat menyalurkan profesi wartawannya dulu.

Berita tentang Bung Karno yang hendak menikah lagi dengan Hartini, seorang wanita yang sebelumnya telah bersuami sempat membuat Bung Tomo berang. Sedih sekali Bung Tomo pada saat itu. Ia termenung memikirkan nasib rakyat yang sangat dicintainya. Bagaiman kelanjutan negara ini nantinya? Bagimana nasib rakyat nya? Bagi Bung Tomo jatuhnya sebuah negara akibat dari keserakahanyya pemimpinnya bsa dikarenakan HARTA, TAHTA, dan WANITA.

Kemudian pada saat usianya yang meinjak 35 tahun tepatnya pada tahun 1955 Bung Tomo diangkat menjadi Menteri Negara yang membawahi Departemen Urusan Bekas Pejuang Kemerdekaan RI. Banyak pula tugas yang siap menantinya. Kondisi politik tidak stabil. Banyak hal yang menggerogoti negara setelah era perjuangan dulu.  Kabinet masih gonta-ganti. Hal itu menimbulkan ketidakefektifan kerja yang luar biasa. Bung Tomo berpendapat bahwa menjadi menteri di kabinet pada saat itu ibarat orang duduk, bokong belum panas sudah harus berdiri. Sehingga tidak akan ada hasil maksimal yang akan didapat. Begitu pula saat posisi Menteri Sosial mengalami kekosongan karena sang menteri mengundurkan diri, Bung Tomo pun langsung ditunjuk untuk menggantikannya.

Di samping pekerjaannya sebagai Menteri Sosial, ia tetap gigih memperjuangkan Irian Barat. Irian Barat harus bebas dari penjajahan dan kembali pulang ke pangkuan Indonesia. Maka di berbagai sidang, ia selalu berusaha mempengaruhi pemerintahan pada saat itu unyut ngotot tidak mengakui kedaulatan Belanda di Irian Barat. Pernah juga ia mengirim surat selebaran gelap yang berupa ancaman yang ditancapkan dengan belati yang berlumuran darah ke rumah-rumah orang Belanda yang tinggal di Jakarta. Ia ingin membuat jiwa orang Belanda merasa terancam jika tidak segera menginggalkan Irian Barat. Pernah pula Bung Tomo mengirim teman-temannya untuk menyusup ke Irian Barat.

Jiwa solidaritas Bung Tomo yang begitu besar, membuat ia tak bisa tinggal diam. Mesir yang dikala itu sedang mengalami situasi perang dengan statusnya yang merupakan sahabat Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan membuat nati nuraninya tergerak. Bung Tomo dengan suaranya yang bersemangat mengatakan akan mengirimkan sukarelawan yang akan diterjunkan untuk membantu peerjuangan rakyat mesir. Pro dan kontra terjadi. Banyak sekali yang mengirimkan surat untuk menawarkan diri menjadi sukarelawan. Akan tetapi, banyak pula surat yang datang dengan isi yang menyayangkan tindakan Bung Tomo tersebut. Mereka beralasan bahwa tenaga Bung Tomo akan sangat lebih baik jika digunakan untuk memberantas kejahatan-kejahatan yang terjadi di kalangan Pemerintah Sendiri. Dimana pada saat itu memang hukum diinjak-injak dan koruptor bebas atau dengan sengaja dilindungi. Hingga akhirnya, Bung Tomo tak jadi berangkat ke Mesir karena perang memang telah usai.

Sepandai-pandai nya orang, tetapi jika sekolahnya tidak tinggi maka tidak akan dihargai daripada orang yang sekolahnya tinggi. Hal itu mendasari keinginannya untuk menempuh pendidikan di Universitas. Ia yang hanya berbekalkan ijazah SD ditambah tekad yang sungguh-sungguh diterima menjadi mahasiwa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Menurut Bung Tomo ekonomi adalah sendi-sendi tulang negara. Begitulah pentingnya ekonomi di mata Bung Tomo hingga ia memilih untuk belajar ekonomi.

Tahun silih berganti, keadaan bertambah parah, norma-norma kesusilaan mulai diabaikan. Para pembesar hanya berpesta pora. Serangan-serangan PKI mulai memuncak. Padahal dalam berbagai sidang Bung Tomo selalu mengingatkan akan bahaya PKI yang selalu mengintai. Hingga akhirnya, pemberontakan PKI meletus. Banyak korban berjatuhan. Bung Tomo sekeluarga pada saat itu memilih untuk bersembunyi di dalam kota karena mereka merasa lebih aman untuk berada di dalam kota. Di dalam kota mereka tau siapa kawan dan siapa lawan. Perhitungan Bung Tomo kali ini benar, karena berita-berita daerah amat menyeramkan, dimana-mana ada pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan PKI.

Dunia emang sangat aneh. Bung Tomo pada zaman perjuangan selalu dibenci oleh PKI. Dan kini, ia pun ditahan bersama mereka. Di Nirbaya, sebuah kompleks dengan rumah-rumah seperti kawasan perumnas di lahan yang luas dan dijuluki sebagai kampus kuning. Sebagai tahanan, gerakan Bung Tomo terbatas. Dia yang biasanya seperti burung terbang bebas, kini menjadi burung dalam kurungan. Keterbatasan geraknya ini ia manfaatkan untuk mendalami agama. Satu tahun di Nirbaya pun ia lalui dengan penuh rasa rindu kepada istrinya walaupun setiap pagi istrinya sudah datang menjenguknya.

Hingga sampai pada hari ulang tahunnya pun dirayakan dalam tahanan. Namun semua itu tak mengurangi kebahagiaan yang terpancar dalam keluarga kecilnya. Selama Bung Tomo ditahan, istrinya lah yang menggantikan tugasnya di kantor. Semua urusan kantor kini dipegang oleh Sulis, istri tercintanya. Sampai pada suatu pagi akhirnya Bung Tomo dibebaskan. Rasanya semua telah kembali seperti semula.

Masalah memang datang silih berganti. Ketika itu anaknya Titing jatuh sakit. Setelah mereka bawa ke RSCM namun tak ada dokter yang menangani, Titing hanya dirawat dirumah. Kedua orangtuanya bingung dengan penyakit yang diderita anaknya. Memang tidak biasa, terdapat benjolan sebesar jambu merah muda pada perutnya. Sempat waktu itu ayahnya bernadzar jika anaknya sembuh, akan dibawa berlibur ke Australia. Titing terus merintih kesakitan. Akhirnya sang ibu berinisiatif untuk mengeroki tubuhnya, terutama pada bagian perut sekitar benjolan tersebut. Dan ajaib, sungguh kuasa Allah benar-benar nyata. Titing sembuh hanya karena kerokan sang ibu. Dan Titing pun telah kembali normal seperti biasanya. Bung Tomo pun melaksanakan nadzarnya. Bulan Oktober 1980 yang dihari itu pula bertepatan dengan ulang tahun istrinya. Mereka berlibur ke Australia. Disana mereka bersenang-senang sekeluarga. Jalan-jalan berkeliling Australia, makan makanan mahal di restoran, dan lain-lain. Tanpa disadari ternyata itu adalah kebersamaan terakhir mereka. Australia menjadi kenangan paling indah bagi kehidupan mereka.

Tahun 1981 bagi mereka bisa jadi adalah tahun yang membahagiakan sekaligus menyedihkan sepanjang hidup.Membahagiakan karena pada tahun itu mereka sekeluarga dapat menunaikan ibadah naik haji bersama-sama. Menyedihkan karena pada saat itu pula lah Bung Tomo jatuh sakit pada saat melaksanakan ibadah haji. Sempat dirawat di rumah sakit kemudian sembuh sebentar dan jatuh sakit lagi. Sampai kemudian pada tanggal 7 Oktober 1981 Bung Tomo meninggal dunia. Disana, di Arafah. Sebuah tempat yang baik. Banyak jemaah haji tiap tahunnya yang ingin meninggal disana. Di tanah suci. Tapi Bung Tomo lah yang mendapatkan tempat meninggal yang baik itu. Jenazahnya pun dimakamkan disana. Saat itu semua menangis. Indonesia berkabung. Indosesia telah kehilangan putra bangsa terbaik. Indonesia kehilangan pejuang yang sangat ksatria. Semua merasa kehilangan. Ketika istri dan anaknya kembali ke Indonesia, semua meminta agar jenazah dikuburkan di tanah air tercinta. Akhirnya dengan aturan-aturan yang rumit nan berbelit-belit ditambah proses yang panjang dan memakan waktu yang lama akhirnya jenazah bisa dibawa ke Indonesia. Dan tiga hari setelah kepergiannya sang mertua pun ikut menyusulnya. Di tahun itu mereka kehilangan dua orang mereka sayangi.

Semenjak kepergian Bung Tomo, kediaman beliau menjadi ramai. Setiap hari banyak yang datang bergantian ke rumahnya hanya sekedar untuk mewawancarai sang istri. Walaupun sebenarya sang istri sudah tak mau mengungkit-ungkit masalah kematian suaminya lagi namun karena banyak masyarakat yang saking sayangnya kepada almarhum suaminya ingin mengetahui bagaiamana tentang kematiannya akhirnya ia pun meladeni setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kini masalah gelar Pahlawan Nasional untuk Bung Tomo menjadi pembicaraan banyak orang. Banyak anak muda yang mengira Bung Tomo sudah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Sementara ada beberapa pihak yakni salah satu ormas kepemudaan dan salah satu partai politik yang kembali mengungkit masalah gelar itu. Bagi istrinya tak masalah dengan gelar yang dipermasalahkan oleh orang-orang. Baginya Bung Tomo adalah pahlawan bagi keluarganya yang mau berkorban untuk sesama dan tidak mementingkan dirinya sendiri, mengabdi dengan total. Bentuknya tidak hanya mengangkat senjata tetapi juga menolong sesama. Sementara itu mengenai kepahlawanan Bung Tomo, diserahkannya kepada seluruh rakyat, seluruh generasi muda untuk menilainya.

Tentang shaflame

assalamualaikum wr.wb haii semuanya.. 'o')/ lahir di Ngawi, 13 April 1999 dengan nama Yuhanida Ratnasari semoga semua yang ada di sini bermanfaat untuk semuanya.. :D
Pos ini dipublikasikan di Tugas Broh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s