TUGAS CERPEN

Assalamualaikum wr.wb.  Jumpa lagi dengan saya🙂 entahlah saya bingung mau ngomong apa. ini adalah tugas bahasa indonesia saya yang ingin saya bagi.

MASJID

Oleh Yuhanida Ratnasari

 depan

Kejadian ini kualami waktu aku masih smp. Di akhir masa smp ku tepatnya. Kejadian luar biasa yang yang tak akan pernah hilang dari memoriku. Kejadian bersama seorang sahabatku yang memang satu-satu nya sahabat yang kupunyai namun memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan ku. Kejadian yang dapat menjungkir balikkan  kerja otakku. Kejadian singkat yang memang sangat singkat yang dapat merubah wajah ku menjadi pucat bahkan lebih pucat daripada mayat.

***

Siang mulai berganti malam. Sang Raja petang mulai datang. Matahari mulai pulang ke pangkuan. Semburat merah menghiasi langit malam yang tampak kelam.

“Jadikah acara kita malam ini Rin?” tanya Ifah kepadaku.

“Jadi kok. Tunggu dulu ya aku masih mau salat maghrib dulu,” kataku membalas pertanyaan dari Ifah dengan cepat.

Sebelumnya perkenalkan namaku Rinda. Arinda Putri Dewi. Sebuah nama yang sangat indah pemberian dari kedua orangtuaku. Seorang siswa dari SMP Bina Bangsa. Sebuah sekolah bertaraf internasional yang populer di Jakarta. Namun tak banyak yang tau sekolah tersebut menyimpan banyak misteri yang tertinggal yang tak pernah terkuak sebelumnya.

Malam ini aku bersama dengan Ifah akan pergi ke sekolah. Bukan, bukan untuk menguji seberapa besar nyali kami berdua. Aku tak akan pernah berani untuk melalakukan hal tersebut. Namun lain halnya dengan Ifah. Ia adalah tipe wanita yang pemberani yang siap menghadapi segala situasi. Baik itu berhadapan dengan hal yang nyata maupun tidak nyata.

Acaraku dengan Ifah malam ini yaitu cukup Wifian di sekolah. Hal yang aneh menurut orang lain. Namun percayalah aku sudah sering melakukannya dengan Ifah. Kalau kata Ifah dulu sih, “Kalau malam kan sepi jadi bisa download banyak video dong!”

Kumulai petualanganku bersama Ifah dengan membeli nasi kucing untuk jatah makan ku bersama Ifah di sekolah. Nasib kami sebagai anak kos memaksa kami untuk berbuat demikian. Kulangkah kan kaki ku untuk mulai keluar dari kamar kos kami. Entah kenapa kaki ku terasa sangat berat untuk melakukannya. Seperti ada yang menghalangi atau bahkan mencengkeram nya untuk maju. Namun itu sudah sering terjadi padaku. Ku anggap biasa kejadian itu.

Jalanan yang kami lalui kali ini memanglah sangat sepi. Walaupun banyak rumah di sisi kanan dan kiri jalan namun hal tersebut tak membantu sama sekali. Jalanan yang biasa kulalui di pagi hari ini mendadak berubah 180o. Seram dan mencekam.Tak ada lampu jalanan yang menyinari.Yang ada hanyalah sebuah gang sempit yang nampak tak berujung dan berwarna hitam pekat. Tubuhku yang memang berwarna kecoklatan tersamarkan oleh gelapnya malam. Tak ada suara di sekitar kami berdua. Sunyi dan senyap.Hanya suara derap langkah kaki kami yang terdengar. Entah sejak kapan rasa takut mulai memasuki hatiku. Kutautkan jari tanganku pada Ifah yang berjalan disampingku. Entah kenapa kali ini ia tidak menolak.

Sampailah kami berdua di pintu gerbang belakang sekolah. Sekolah yang menurut sejarahnya adalah bekas bangunan Hindia Belanda. Di tempat ini dulunya menjadi tempat berkumpul dan ditawan nya para penghianat. Banyak yang diadili di tempat ini sehingga banyak juga korban yang berjatuhan di tempat ini. Dan yang pasti ada tempat untuk para korban tersebut dimakamkan. Namun tak ada yang tau pasti diman posisinya. Seiring dengan berkembang nya jaman tempat ini distrerilisasi oleh pemerintah dan dibangunlah sekolah diatas tanah tersebut. Dan jadilah SMP Bina Bangsa ini.

Rasa aneh mulai menjalar di pikiranku. Tak biasanya hal ini terjadi. Selama beberapa malam kami kesini gerbang selalu terbuka. Namun kali ini berbeda. Hal yang membuatku berpikir bahwa ini adalah sebuah tanda bahwa sekolah kali ini menolak kami. Tak merestui kami untuk datang kesini. Namun segera kutepiskan pikiran itu dari dalam otakku. Kucoba untuk menggeser pagar tersebut namun nihil. Sekali, dua kali, tiga kali dan tetaplah gerbang tersebut tak mau terbuka. Dan setelah ku teliti ternyata gerbang tersebut terkunci.

Segera aku dan Ifah memutuskan untuk memanjatnya. Dan dengan mudah kami pun berhasil melewati gerbang tersebut. Untuk wanita tangguh seperti kami hal tersebut sangatlah mudah untuk dilakukan walaupun memang gerbang tersebut hanya setinggi dada kami. Bulu kudukku tiba-tiba mulai berdiri. Hawa dingin mulai menusuk setiap tulang dan persendian yang ada di tubuhku. Segera ku pegang sweaterku dan mulai kukancingkan. Tanpa kusadari tangan ini mulai memeluk diriku sendiri.

Segera kami bergegas menuju ke area masjid. Tempat yang menjadi markas pribadi kami saat kami melakukan aksi ini. Yah tempat yang cukup strategis yang berada di tengah-tengah sekolah. Aku melepas sandal yang kugunakan dan segera memasuki masjid. Kunyalakan lampu masjid dan klek masjid menjadi terang benderang. Segera kucari posisi ternyamanku. Ya disini aku sekarang, di daerah paling depan di dekat mimbar. Kukeluarkan seluruh peralatan perang yang kubawa. Laptop check charger check hp check buku tulis check. Yah semua sudah siap. Kunyalakan laptop ku dan kumulai untuk berselancar di dunia maya.

“Rin makan ayo makan dulu,” ajak Ifah saat mengeluarkan nasi kucing yang tadi kami beli di perempatan dekat kosan.

“Nggak ah kamu aja. Lagi asyik omegle-an nih. Lumayan nih dapet bule fotonya kece juga,” kata ku sok yes pada Ifah yang sibuk memasukkan tempe kedalam mulutnya.

“Rin, ayok ke kelas yok!” ajak Ifah kepadaku.

“Ngapain? Eh, bentah bentar. Lha nasi mu mana? Kok udah nggak ada?” kataku sambil terheran-heran.

“Udah habis keles. Makanya ayok ke kelas ngambil minum,” ajak Ifah sekali lagi.

Belum lima menit juga Ifah makan dan sekarang sudah habis? Oh Ya Allah. Ini dia doyan atau memang doyan. Kata batinku terheran heran. Memanglah sekolah kami menyediakan fasilitas air minum Aqua  pada setiap kelasnya.

Kami pun keluar dan segera menuju ke kelas kami IXE yang berada tepat di seberang masjid. Ifah mencoba untuk membuka kelas dan sial nya kami lupa kalau kelas sudah terkunci. Dan ‘Aha’ sebuah cara lama muncul di kepalaku. Segera kuhampiri jendela sekolah kami yang memang bergaya belanda. Kutarik jendela tersebut dari bawah. Kuotak-atik lagi. Dan “treekk” akhirnya jendela tersebut terbuka.

“Ayo Fah cepat masuk ambil minum nya yang banyak sekalian ya!” kata ku pada Ifah dengan nada menyuruh.

“Nggak ah, kamu aja yang ambil kutunggu di sini aja,” tolak Ifah cepat.

“Ih nggak ah malesin tau. Kan tadi yang katanya mau ambil air kan kamu,” katau nggak mau repot.

“Ayolah Rin masak kamu nggak mau sih bantuinn teman mu yang cantik ini, ayolah Rin!” suara Ifah mulai dengan nada memelas.

Akhirnya setelah perdebatan kecil itu aku juga yang masuk ke kelas. Dia yang butuh, dia yang perlu tapi aku juga yang susah. Tapi tak apalah memang ini yang dinamakan persahabatan kami.

Segera kupanjat jendela itu dan ‘hup’ aku sudah beerada di dalam kelas. Rasa takut kembali menyergap diriku. Detak jantung ku mulai berdegup kencang. Kelas itu sepi. Gelap. Lembab. Dan juga jangan lupakan kalau sekarang hari sudah malam dan hanya ada kami berdua di sekolah ini. Oh jangan lupakan juga kalau aku phobia gelap. Lengkap sudah penderitaan ku kali ini. Segera kuraba tembok disekitar ku dan yes akhirnya aku menemukan nya. Klik. Akhirnya kelas menjadi terang. Segera ku berjalan pelan ke sudut belakang kelas mendekati dispenser yang telah tersedia. Suara khas air mengalir mulai menggema memenuhi ruang kelas memecah keheningan malam.

Entah kenapa aku merasa ada yang mengawasi ku dari belakang tubuhku. Jantungku yang sebelumnya berdetak tak normal semakin tak normal. Oh ayolah walaupun otakku tak percaya hal-hal seperti itu namun sepertinya tubuh dan hatiku bekerja tak sejalan. Semakin lama kurasakan tatapan itu semakin intens. Semakin menusuk tubuhku. Dengan bulu kuduk ku yang semakin berdiri ku putar badan ku secara perlahan lalu ku tengokan kebelakang dan___kosong. Hanya ada Ifah yang berada di dekat jendela kelas.

Segera setelah dua buah botol yang kubawa terisi penuh aku segera menuju ifah. Taanpa kusadari langkah ku semakin lama semakin cepat dan akhirnya akupun berlari menuju Ifah. Aku tak fokus dan ‘braaakkk’ tanpa senggol sebuah bangku. Entah kenapa kejadian ini membuat hatiku semakin panik dan langsung saja aku segera melompat keluar jendela setelah seebelumya kumatikan lampu kelas.

“Fiuuhh. Akhirnya,” kataku pada diriku sendiri.

Namun Ifah hanya memandangku dengan tatapan aneh nya.

“Apa,” kukatan padanya dengan muka jutek ku.

Saat kami berdua berjalan menuju masjid. Hawa dingin yang sebelumnya sangat terasa bahkan hampir membuat tubuhku ngilu secara drastis hawa dingin itu menghilang digantikan oleh rasa panas yang memenuhi sekitarku. Ungkep. Entah aku tak tau Ifah juga merasakan hal yang serupa atau tidak. Tiba-tiba saja “Wuussshhh”. Entah angin macam apa itu. Aku berhenti. Terdiam. Shock. Takut. Entah hanya ilusi, halusinasi, atau yang lain aku melihat sebuah bayangan yang sangat cepat. Dan itu didepan mataku sendiri. Jangan tanyakan jantungku. Ia sedang lari maraton saat ini.

Berlari aku menyusul Ifah dan kutubrukan badan ku ke badannya. “Bruk”.

“Kenapa?” tanya Ifah padaku.

“Gak. Ngak Papa,” ku putuskan untuk diam.

Aku tak memberi tau Ifah akan kejadian tadi karena aku sendiri pun tak yakin akan hal tersebut.

Ku hampiri kembali laptop ku dan kuputuskan untuk membukan akun facebookku. Begitu pula degan Ifah yang asik dengan Youtube nya.

“Ifah,” kupanggil ia dengan nada perlahan.

“Hmm,” jawab nya singkat.

“Fah aku kok merasa ada yang aneh dengan hari ini. Hawa nya nggak kayak biasanya. Ada yang beda,” ungkap ku jujur padanya.

Memang sejak pertama aku memasuki gerbang tadi aku sudah merasa ada yang salah. Ada yang berbeda. Tapi yang tak ku mengerti yaitu kenapa aku mengungkapkan ini pada Ifah. Padahal tak pernah terbersit di pikiranku untuk mengatakannya pada Ifah. Seolah kata-kataku tadi keluar secara alami dari alam bawah sadarku.

“Nggak kok nggak ada yang beda,” kata ifah singkat. Lagi ?

Memang Ifah irit banget bicaranya. Kalau sudah seperti itu aku hanya bisa diam.

“Miaaww..miawww…”

Suara itu terdengar lagi. Suara kucing yang memang sejak tadi menjadi background eksistensi kami di sini. Entah kenapa suara nya dari tadi tak pernah berhenti. Suara yang berasal dari depan ruang BK yang berada dibelakang masjid ini. Dan menurut cerita yang berkembang di dalam sebuah ruangan BK tersebut ada sebuah ruangan lagi yang tak pernah dibuka yang bahkan pintunya ditutupi oleh almari. Ruangan yang menyimpang seperangkat gamelan yang dulunya juga pernah memakan korban.

“Miaaww..miaww..miaaww…”

Suaranya semakin lama semakin keras terdengar. Dan tak pernah kudengar suara kucing itu berhenti. Kesapukan seluruh andangan ku untuk mengamati keadaan luar  masjid dari kaca jendela yang memang seluruh gorden nya terbuka. Angin malam pun yang berhembus pun semakin kencang bahkan sampai masuk kedalam masjid. Jendela masjid yang memang ada beberapa yang rusak sehingga tak bisa di tutup pun ikut dimainkan oleh angin.

“kriieett.. jdeeeer.. kriiettt.. kriieet.. jdeerr..”

Tak hanya satu jendela. Satu dua tiga jendela. Menambah kesan angker dan menakutkan yang kurasakan.

“Fah, jendelane kok kayak gitu sih?” ungkap ku pada Ifah.

“Halah…Cuma angin kok,” kata Ifah tanpa melepas pandangan dari laptop nya.

Tanpa ada rasa sebelumnya aku tiba-tiba ingin menuju kamar mandi untuk melakukan sesuatu.

“Fah, tak ajak yok ke kamar mandi. Aku mau sesuatu nih. Cepetan dong udah nggak tahan nih,” kataku padanya dengan wajah memelas.

Tanpa aba-aba kutarik saja tangan mungil nya itu. Dan kuseret tangannya bagai menyeret barang. Oh Ifah maafkan aku.

Segera ku masuki kamar mandi tersebut. Dan jangan pernah membayangkan kalau kamar madi nya itu terang. Mungkin saja sekolah belum membayar listrik sehingga seluruh kamar mandi de sekolah ini tak berlampu.

“Fah tungguin ya jangan kemana-mana. Ok? Aku takut nih,” jujur ku pada Ifah saat jantungku mulai tak terkontrol.

“Iya..iya.. Eh ngomong-ngomong tutup dong pintu nya! Masa nggak kamu tutup sih?” Ifah terkejut atas sikap ku.

“Nggak usah,” kata ku agak kencang dari kamar mandi. Oh Ya Tuhan aku lupa kalau aku hanya berdua dengan Ifah.

“Wuuussshhhh…” kurasakan lagi rasa yang sama dengan yang tadi. Dua kali aku merasakannya. Hanya saja bedanya kali ini di temani oleh bunyi tetes-tetes air yang berjatuhan dari tempat wudu yang berada persis di damping kamar mandi sehingga menambah ketakutan dalam hatiku. Segera kupercepat urusan ku. Kutarik kembali tangan Ifah dan menyeret nya sambil berlari menuju masjid.

***

Saat aku bersama Ifah mulai melupakan kejadian tadi. Sesuatu yang besar yang belum pernah kualami sebelumnya ternyata sudah menunggu kami.

Aku sedang asyik membalas pesan dari saudara sepupu ku saat kudengar langkah kaki orang beriringan. Aku tak tau Ifah mendengar nya juga atau tidak. Aku terhenyak. Semakin lama semakin keras. Jantung ku mulai bereaksi lagi. Dan “Jdeeerrrr” suara jendela yang tertutup tertutup akibat tertiup angin membuat jantung ku ingin keluar dari tempatnya.

Derap langkah kaki itu semakin lama semakin nyata. Dan tahu dari mana suara itu berasal? Dari plafon masjid. Semakin lama semakin keras. Aku Takut. Jantung ku terus berdetak kencang. Segera  ku hampiri Ifah. Segera ku genggam tangan nya. Kalian tahu bagaimana rasanya kami saat ini? Sebuah plafon sebuat benda tipis yang apabila di injak akan menimpulkan lengkungan atau akan memantul. Ya aku melihat nya sekarang. Plafon tersebut memantul mantul akibat langkah kaki. Bukan, bukan langkah kaki tepatnya. Ada ada orang yang berlari di plafon tersebut. Aku Takut. Siapa? Siapa yang malam-malam kurang kerjaan lari lari diatas plafon. Manusia? Itu nggak mungkin. Ku genggam erat tangan Ifah. Keringat dingin menganak suangai dari tubuhku.

Tak hanya sampai disitu. “Ooeeeeekkkk…..Oeeekkk….Oeeekkkkkkk….” Suara bayi menangis mulai terdengar. Bayi? Bukan. Itu suara Balita. Karena bayi belum bisa berlarian  diatas plafon. Bukan lirih. Sama sekali tidak lirih. Keras. Iya sangat keras. Plafon itu terus bergetar akibat balita itu terus berlarian diatasnya sambil menangis. “Oeeekkk….oeeekk….”

Aku ingin menangis. Kupeluk lengan Ifah dengan kuat. Aku takut. Ayat suci Al-quran terus menerus kupanjatkan. Al-Ikhlas kubaca sekali, dua kali, dan tiga kali.

Ifah berkata dengan lantang, “Kami kesini bukan untuk mengganggu kalian. Kami nggak punya niat jahat. Maaf jika kalian merasa terganggu. Iya kami segera pulang. Tapi tolong berhenti mengganggu kami.”

“Oeeekkk…Oeekkk.. Brukkk..bruuk…”

Dan akhirnya suara itu berhenti. Masih dengan jantung yang tak bisa berdetak dengan normal kami segera membereskan peralatan yang kami bawa tadi. Dan secepat kilat kami segera meninggal kan rumah Allah tersebut.

***

“Allahuakbar…Allahuakbar…” suara azan maghib mulai berkumandang. Tak terasa lama juga aku melamunkan hal tersebut. Biarlah hal tersebut memberikan pejaran hidup tersindiri untukku bahwa kita hidup itu saling berdampingan. Ada hal yang lain yang secara tak nyata ada di sekitar kita. Kejadian tersebut membuatku menyadari untuk lebih mempertebal iman yang kumiliki.

Isi cerita                     : Petualangan dua wanita tangguh di sekolah

Tokoh                         : Arinda dan Ifah

Alur                            : Mundur

Amanat                      : Pertebalah iman mu karena akan ada banyak halangan menyertaimu

Latar                           : 1. Tempat    : sekolah, masjid

  1.              Waktu       : malam hari
  2.           Suasana     : menegangkan dan mencekam

Sudut padang           : Orang pertama pelaku utama

Konflik                      : Bertemu hantu di sekolah

NB: Inilah cerpen aneh bin ajaib yang saya buat. Jangan tanya alurnya! entah lah saya juga bingung ini bagaimana alurnya. saya yang buat aja males baca ulang. tapi ini pengalaman pribadi saya. So, its REAL cuma nama tokoh nya saja saya ganti. Cuma ingin berbagi🙂

Tentang shaflame

assalamualaikum wr.wb haii semuanya.. 'o')/ lahir di Ngawi, 13 April 1999 dengan nama Yuhanida Ratnasari semoga semua yang ada di sini bermanfaat untuk semuanya.. :D
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s